Wednesday, September 13, 2017

“KITA MELANGKAH MENUJU KEMATIAN

“Kematian menjadi titik terakhir dari kisah perjalanan manusia. Kematian selalu menjadi garis finish dari lembar sejarah kita di dunia ini. Ibarat perlombaan, sejatinya kelahiran itu adalah garis start dan kematian adalah garis finis”

Ket.foto: Ilustrasi


Pekan ini Ikatan Keluarga NTT Raja Ampat berduka. Herman Making salah satu anggotanya dipanggil menghadapi bapak di Sorga. Sosok sederhana yang ulet itu menghembuskan nafas terakhirnya, Minggu 03 September 2017.Ia meninggalkan seorang puteri semata wayangnya yang kini duduk di Bangku Kelas I SMP Negeri 14 Waisai-Kabupaten Raja Ampat.

Sosok Herman Making tak hanya dikenal kalangan Keluarga Besar NTT Raja Ampat tetapi juga cukup dikenal di Kota Waisai-Raja Ampat. Sebagai seorang petani sayur ia tentunya memiliki banyak sahabat dan relasi. Bagi yang biasa membeli sayur atau buah-buahan dikebunnya yang terletak di Gunung Tebakar (pertengahan Waisai-Warsamdin) tentunya sangat kenal dengan sosok yang satu ini.

Kepergianya tidak saja membawa duka, tetapi setidaknya semangat hidupnya menjadi guru yang baik atau orang inggris bilang “GOOD TEACHER” bagi kita yang sedang berjalan dalam garis waktu ini.

Jika menoleh kembali kepada kisah hidupnya, Herman Making, merupakan sosok perantau yang ulet. Sebagai perantau yang berasal dari Ujung Timur Pulau Flores, ia mau mengatakan kepada kita bahwa sejatinya hidup ini adalah sebuah pengembaraan. Sebuah ziarah. Dalam pengembaraan itulah kita harus berjuang. Dalam pengembaraan itulah kita berusaha. Dan dalam pengembaraan itulah kita selalu ada bersama untuk bisa saling berbagi. Berbagi melalui talenta dan bakat yang kita miliki.

Keuletannya menyulap hutan belantara menjadi sebuah kebun yang produktif menjadi catatan tersendiri bagi anak-anak perantau. Bahwa hidup ini adalah sebuah perjuangan. Hidup ini butuh kerja keras.

Kisah duka seperti ini tentunya tak hanya dialami Keluarga NTT Raja Ampat di pekan ini. Sejumlah sehabat-sahabat saya di Media Sosial juga mengalami hal yang sama. Kehilangan orang-orang yang dikasihi. Meninggalnya keluarga dekat. Atau siapa saja yang kita kenal. Bahkan hampir tiap hari dinding-dinding facebook penuh dengan ucapan turut berduka. Yah itulah hidup manusia, hidup yang sejatinya tengah berlangkah menuju ke kematian.

Kematian menjadi titik terakhir dari kisah perjalanan manusia. Kematian selalu menjadi garis finish dari lembar sejarah kita di dunia ini.

Ibarat perlombaan, sejatinya kelahiran itu adalah garis start dan kematian adalah garis finis. Sayangnya garis finis yang kita tuju itu tak pernah memberikan batasan yang jelas. Pada meter berapa? Pada kilometer berapa? Atau dimana garis finis itu berada?. Kadang garis finish itu datang terlalu cepat tapi kadang datang sangat terlambat, kadang ia berada diantara keduanya. Itulah kematian. Pasti tetapi juga penuh misteri.

Namun yang pasti bahwa semua yang hidup ini pasti mati. Itulah takdir. Dan kapan itu terjadi, hanya waktu dan hanya Tuhan yang tahu. Kematian itu pasti karena setiap kelahiran pasti akan mengarah kesana, yakni kematian. Dan mutlak bahwa kita tengah berjalan menuju ke kematian. Itu fakta yang tak terbantahkan dan tak dapat dielak.

Jika hidup ini tengah melangkah ke kematian? Apakah kita harus sia-siakan hidup ini? Tentu tidak. Alkitab mengajarkan kita untuk waspada dan berjaga, karena pencuri datang pada waktu yang tak disangka-sangka.

Yah itulah kematian. Ia bagaikan pencuri pencabut nyama yang mengendap-endap dimalam hari. Bahkan pagi, siang atau kapan saja. Tak kenal kompromi dan negosiasi. Jika tiba waktunya, iya akan mengambil kehidupan ini begitu cepat tanpa kita sadari. Itulah kekuasaan Tuhan. Hanya dialah yang berhak atas hidup ini. Lalu apakah kita bisa menolak dan meminta tunda. Sama sekali tidak.

Sejatinya Tuhan memberi kita hidup untuk mempersiapkan diri kesana. Entah apa yang terjadi sesudah kematian, yang terpenting bagaimana kita menata dan membangun hidup ini.


Dalam ajaran agama ada dua penginapan abadi setelah kematian, yakni surga dan neraka. Dan hidup yang kita lakoni saat ini menjadi kunci entah nantinya kita nginap dimana setelah kematiaan, apakah surga atau neraka. Hanya Tuhan yg tahu. Karena penginapan abadi itu miliknya. Dan Tuhanlah pejaga pintu penginapan itu. Tuhanlah pengadilan akhir yang menentukan kita nginap dimana. Semoga. #petrusrabu

No comments:

Post a Comment