“Kematian
menjadi titik terakhir dari kisah perjalanan manusia. Kematian selalu menjadi
garis finish dari lembar sejarah kita di dunia ini. Ibarat perlombaan,
sejatinya kelahiran itu adalah garis start dan kematian adalah garis finis”
![]() |
| Ket.foto: Ilustrasi |
Pekan
ini Ikatan Keluarga NTT Raja Ampat berduka. Herman Making salah satu anggotanya
dipanggil menghadapi bapak di Sorga. Sosok sederhana yang ulet itu
menghembuskan nafas terakhirnya, Minggu 03 September 2017.Ia
meninggalkan seorang puteri semata wayangnya yang kini duduk di Bangku Kelas I
SMP Negeri 14 Waisai-Kabupaten Raja Ampat.
Sosok
Herman Making tak hanya dikenal kalangan Keluarga Besar NTT Raja Ampat tetapi
juga cukup dikenal di Kota Waisai-Raja Ampat. Sebagai seorang petani sayur ia
tentunya memiliki banyak sahabat dan relasi. Bagi yang biasa membeli sayur atau
buah-buahan dikebunnya yang terletak di Gunung Tebakar (pertengahan
Waisai-Warsamdin) tentunya sangat kenal dengan sosok yang satu ini.
Kepergianya
tidak saja membawa duka, tetapi setidaknya semangat hidupnya menjadi guru yang
baik atau orang inggris bilang “GOOD TEACHER” bagi kita yang sedang berjalan
dalam garis waktu ini.
Jika
menoleh kembali kepada kisah hidupnya, Herman Making, merupakan sosok perantau
yang ulet. Sebagai perantau yang berasal dari Ujung Timur Pulau Flores, ia mau
mengatakan kepada kita bahwa sejatinya hidup ini adalah sebuah pengembaraan.
Sebuah ziarah. Dalam pengembaraan itulah kita harus berjuang. Dalam
pengembaraan itulah kita berusaha. Dan dalam pengembaraan itulah kita selalu
ada bersama untuk bisa saling berbagi. Berbagi melalui talenta dan bakat yang
kita miliki.
Keuletannya
menyulap hutan belantara menjadi sebuah kebun yang produktif menjadi catatan
tersendiri bagi anak-anak perantau. Bahwa hidup ini adalah sebuah perjuangan.
Hidup ini butuh kerja keras.
Kisah
duka seperti ini tentunya tak hanya dialami Keluarga NTT Raja Ampat di pekan
ini. Sejumlah sehabat-sahabat saya di Media Sosial juga mengalami hal yang
sama. Kehilangan orang-orang yang dikasihi. Meninggalnya keluarga dekat. Atau
siapa saja yang kita kenal. Bahkan hampir tiap hari dinding-dinding facebook
penuh dengan ucapan turut berduka. Yah itulah hidup manusia, hidup yang
sejatinya tengah berlangkah menuju ke kematian.
Kematian
menjadi titik terakhir dari kisah perjalanan manusia. Kematian selalu menjadi
garis finish dari lembar sejarah kita di dunia ini.
Ibarat
perlombaan, sejatinya kelahiran itu adalah garis start dan kematian adalah
garis finis. Sayangnya garis finis yang kita tuju itu tak pernah memberikan
batasan yang jelas. Pada meter berapa? Pada kilometer berapa? Atau dimana garis
finis itu berada?. Kadang garis finish itu datang terlalu cepat tapi kadang
datang sangat terlambat, kadang ia berada diantara keduanya. Itulah kematian.
Pasti tetapi juga penuh misteri.
Namun
yang pasti bahwa semua yang hidup ini pasti mati. Itulah takdir. Dan kapan itu
terjadi, hanya waktu dan hanya Tuhan yang tahu. Kematian itu pasti karena
setiap kelahiran pasti akan mengarah kesana, yakni kematian. Dan mutlak bahwa
kita tengah berjalan menuju ke kematian. Itu fakta yang tak terbantahkan dan
tak dapat dielak.
Jika
hidup ini tengah melangkah ke kematian? Apakah kita harus sia-siakan hidup ini?
Tentu tidak. Alkitab mengajarkan kita untuk waspada dan berjaga, karena pencuri
datang pada waktu yang tak disangka-sangka.
Yah
itulah kematian. Ia bagaikan pencuri pencabut nyama yang mengendap-endap
dimalam hari. Bahkan pagi, siang atau kapan saja. Tak kenal kompromi dan
negosiasi. Jika tiba waktunya, iya akan mengambil kehidupan ini begitu cepat
tanpa kita sadari. Itulah kekuasaan Tuhan. Hanya dialah yang berhak atas hidup
ini. Lalu apakah kita bisa menolak dan meminta tunda. Sama sekali tidak.
Sejatinya
Tuhan memberi kita hidup untuk mempersiapkan diri kesana. Entah apa yang
terjadi sesudah kematian, yang terpenting bagaimana kita menata dan membangun
hidup ini.
Dalam
ajaran agama ada dua penginapan abadi setelah kematian, yakni surga dan neraka.
Dan hidup yang kita lakoni saat ini menjadi kunci entah nantinya kita nginap
dimana setelah kematiaan, apakah surga atau neraka. Hanya Tuhan yg tahu. Karena
penginapan abadi itu miliknya. Dan Tuhanlah pejaga pintu penginapan itu.
Tuhanlah pengadilan akhir yang menentukan kita nginap dimana. Semoga. #petrusrabu

No comments:
Post a Comment