![]() |
| foto: desire sanady |
Pepatah, "Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung"
bukan asing lagi bagi pendengaran kita. Pepatah ini mengingatkan kita bahwa
dimanapun kita berada kita harus menjunjung tinggi dan menghargai adat istiadat
setempat.
Paulo Cuehlo mengatakan, "culture makes people understand
each other better. And if they understand each other better in their soul, it
is easier to overcome the economic and political barriers. But first they have
to understand that their neighbour is, in the end, just like them, with the same
problems, the same questions.”
Artinnya budaya itu membuat kita saling menghargai dalam suatu
ikatan kasih dan persaudaraan.
"Mas Kawin" merupakan salah satu adat istiadat yang
hidup dan berkembang dalam masyarakat kita. Budaya atau ada istiadat ini biasanya
dilakukan seorang laki-laki saat mempersunting seorang gadis. Ataupun
sebaliknya.
Karena dalam budaya tertentu tidak saja laki-laki menyerahkan mas
kawin tapi seorang gadis bisa juga menyerahkan mas kawin.
Bagi saya mas kawin tidak saja sebagai simbol budaya soal
penyerahan harta benda dalam proses pernikahan adat.
![]() |
| Foto: by. Petrusrabu |
Tetapi mas kawin adalah salah satu simbol atau ungkapan cinta yang
tinggi dan luhur. Dalam berbagai ada istiadat yang berkembang di tanah, cara
mengungkapkan cinta itu berbeda-beda. Tentunya sesuai dengan adat istiadat
berkembanga dan kondisi sosial budaya, ekonomi dan lingkungan setempat.
Dan jika budaya adalah ungkapan jatidiri maka mas kawin juga bisa
diartikan sebagai bentuk penyerahan diri.
Mas kawin adalah simbol kejujuran, keiklasan dan ketulusan cinta.
Entah dari seorang laki-laki atau sebalik dari pihak wanita...
Karena cinta tak butuh kata-kata dan puisi. Cinta tak butuh
pujian. Cinta yang tulus butuh pengorbanan. Butuh perjuangan. Dan cinta itu butuh dukungan dan kerja sama.
Dukungan dan kerja sama antar kedua belah pihak tetapi juga doa
dan dukungan orang-orang sekitar. So---jangan anggap sepele mas kawin ya. #petrusrabu



No comments:
Post a Comment