Thursday, February 23, 2017

“Lebih Dekat Dengan Petrus Rabu” (Sebuah Auto Biografi)

Sambungan....

Jalom: 21 September 1973:
Rabu Itu Prajurit 

Hari masih pagi. Udara masih terasa dingin pada 21 September 1973. Alam Kabupaten Manggarai yang berada pada ketinggian kurang lebih 1.200 Meter Diatas Permukaan Laut itu  menjadikan daerah itu terkenal sebagai daerah terdingin di Pronvinsi Nusa Tenggara Timur.  Iklim seperti ini  menyelimuti sepanjang hari di pertiwi  ujung barat Pulau Flores tersebut.

Hari itu hari keenam pasca  melahirkan. Pagi itu, Mama Monika Lihung sibuk mengurus sang bayi. Sementara Sang Ayah, Paulus Timba membereskan ruang tamu di rumah panggung dan beratap ijuk  tersebut. Ia membentang beberapa lembar tikar yang merupakan hasil karya tangan Mama Monika Lihung sendiri. Keterampilan menyanyam tikar dengan beragam corak dan motif merupakan keahlian ibunda tercinta sejak ia masih remaja.

Rumah itu memang sangat sederhana. Tak ada tempat tidur. Tak ada plafon. Tak ada organem-ornamen. Tak ada ruang makan khusus. Dalam segala kekuranngan dan keterbatasannya kami tetap sangat bahaga berada dirumah yang sederhana itu.

Usai membereskan ruang tamu, ia menuju ke dapur mengambil sebutir telur. Beberapa daun sirih serta tembakau dalam sebuah piring putih. Ia juga mengambil seekor ayam jantan. Semua ini merupakan bahan sesajen untuk acara adat pagi itu. Berdasarkan tradisi adat masyarakat Manggarai. Hari itu hari dimana dilaksanakan acara adat  “Cear Cumpe”.

Dalam adat Manggarai, selama lima hari setelah melahirkan, ibu dan anak akan tidur di sekitar perapian atau tungku api (sapo). Mereka tidur di tempat khusus yang disebut Cumpe. Cumpe ini tidak boleh digunakan oleh orang lain. Setelah lima hari, maka segera diadakan upacara wa’u wa tana (turun ke tanah). Saat itulah untuk pertama kalinya ibu dan anak dibawa keluar rumah untuk diperkenalkan kepada anggota kampung dan diterima ke dalam masyarakat yang lebih luas sebagai manusia sosial.

Upacara ini juga sering disebut Cear Cumpe yang berarti pembongkaran tempat tidur (cumpe) di sekitar perapian atau sapo Dalam adat Mangggarai, proses pemberian nama ini disebut “Cer Cumpe”.

Selain sebagai tanda sosialiasi pertama sang bayi, pada acara adat ini juga akan dilakukan pemberian nama adat atau tepatnya sebagai pembaptisan adat.

Menurut sang ayah,  dalam acara adat itu, keluarga besar sang Ayah sepakat untuk berikan faham “Rabu” sebagai nama belakang nama saya.  Nama Rabu,  kata Ayah, diambil dari nama sang kakek yang konon Kakek Rabu adalah seoarang prajurit perang Zaman kerajaan.  Bahkan semasa hidupnya mendedikasikan hidupnya untuk menjadi prajurit Raja untuk mengaman warga dan menjadi anggota pasukan tempur sang Raja.

Jadi nama Rabu tak sekedar nama hari sebagaimana nama hari ketiga dalam pekan.  Rabu sejatinya bukan nama hari.  Ayah berpesan hendaknya dengan diberikan nama Rabu, saya memiliki semangat hidup sebagaimana prajurit yang pantang menyerah. Berjuang. Sepahit apapun hidup yang dialami pantang menyerah.  Semangat itulah yang hendak tumbuh dan berkembang dalam diri

Prajurit itu membela banyak orang. berkorban. Sebagaimana seorang prajurit mengabdikan hidup bagi orang laen. Itulah maksud dan kehendak orang tua sehingga saya diberikan nama ‘Rabu”. Nama yang diambil dari nama sang Kakek yang zaman kerajaan sebagai prajurit perang Raja di bumi Congkasae.


......... besambung.......

No comments:

Post a Comment