Tuesday, February 7, 2017

“Lebih Dekat Dengan Petrus Rabu” (Sebuah Auto Biografi)

Jalom: 16 September 1973

Langit membentuk warna jingga di Ufuk Timur. Surya secara pelahan mulai menampakan wajahnya. Bias-bias sinarnya terus menghalau kegelapan di sebuah perkampungan kecil di pagi itu. Kampung itu adalah Jalom-Desa Compang Ndehes-Kecamatan Wairii-Kabupaten Manggarai-Nusa Tenggara Timur. Letaknya yang  jauh dari Kota Ruteng sebagai pusat Pemerintahan Kabupaten Manggarai membuat kampung itu terasa sunyi dan sepi.  

Topografi alam yang diapiti oleh gunung diempat sisinya, membuat kampung itu bagaikan bejana berbentuk “belanga.” Tak ada akses jalan raya dari dan menuju kampung tersebut, hanya ada jalan setapak. Bahkan orang-orang yang tak biasa ke kampung tersebut akan merasa kesulitan karena harus menuruni lembah nan terjal, melewati ngarai dan melangkah diantara bebatuan. Extra hati-hati tentunya. Melangkah salah siap-siap terjungkal dan terjatuh.

Hidup nan  rukun dan saling berdampingan menjadi ciri kas kehidupan sosial warga di kampung tersebut. Itulah yang membuatku selalu rindu dan ingin pulang. Rindu akan hanyatnya suasana dan persaudaraan yang terjalin.

Subuh itu, 16 September 1973. Sebagian warga kampung masih terlelap dalam tidurnya. Sebagian lain sudah mempersiapkan diri untuk memulai pekerjaan hari itu. Semua warga di kampung itu adalah petani, yang sehari-harinya bertani dan berladang. Karena itu, malam hari merupakan waktu yang tepat bagi mereka untuk beristirahan.

Pagi itu, tangisan bayi dari salah satu rumah disudut kampung itu memecah kesunyian. Sejumlah warga berdatangan. Seorang lelaki paruh bayah sibuk membantu dukun kampung dalam proses kelahiran itu.
Ia bergegas keluar rumah. “Tuuk.... Tukkkk...Tukkkkk, ” bunyi pukulan dari balik pintu. “Ata peang ko ata one?” ia berteriak. “Ata one” dengan serentak orang-orang dalam rumah menjawabnya. Hal seperti ini merupakan kebiasaan di Suku Manggarai untuk mengetahui jenis kelamin sang bayi usai melahirkan. Karena tidak semua orang diperkanan untuk mengetahu proses persalinan. Hanya orang tertentu saja.

Raut wajahnya berseri. Ia tersenyum lebar. Pagi itu ia baru saja dikaruniai bayi laki-laki. Lelaki itu adalah ayahanda tercinta, Paulus Timba. Sosok sederhana, rendah hati dan pekerja keras. Bagiku dialah sang maha “guru”  kehidupan. Kisah hidupnya menjadi guru yang terbaik bagi kami anak-anaknya. Santun dalam bicara. Menghormati siapapun.

Sementara ibunda tercinta,  Monika Lihung masih berbaring lemas usai proses persalinan itu. Dibalik parasnya yang cantik. Dengan hidung yang mancung, ia tak mampu menyembunyikan kebahagiannya. Wajahnya berseri. Ia segera mencium bayi dan memeluk sebentar. Lalu kembali diserahkan kepada dukun kampung.

Proses kelahiran pagi itu berjalan lancar walaupun dengan cara-cara tradisional dan hanya dibantu sang dukun kampung. Tak ada bidan. Tak ada dokter. Tak ada obat. Semua berjalan secara alamiah. Itulah saat-saat awal saya saya hadir dibumi tercinta ini.

“Dulu kamu lahir lancar. Walaupun saat itu tak semaju seperti ini,” uja ibunda tercinta, Monika Lihung ketika saya beranjak remaja.
...................... bersambung.....................


No comments:

Post a Comment