Jalom: 16
September 1973
Langit membentuk
warna jingga di Ufuk Timur. Surya secara pelahan mulai menampakan wajahnya. Bias-bias
sinarnya terus menghalau kegelapan di sebuah perkampungan kecil di pagi itu. Kampung
itu adalah Jalom-Desa Compang Ndehes-Kecamatan Wairii-Kabupaten Manggarai-Nusa
Tenggara Timur. Letaknya yang jauh dari
Kota Ruteng sebagai pusat Pemerintahan Kabupaten Manggarai membuat kampung itu
terasa sunyi dan sepi.
Topografi alam yang
diapiti oleh gunung diempat sisinya, membuat kampung itu bagaikan bejana
berbentuk “belanga.” Tak ada akses jalan raya dari dan menuju kampung tersebut,
hanya ada jalan setapak. Bahkan orang-orang yang tak biasa ke kampung tersebut
akan merasa kesulitan karena harus menuruni lembah nan terjal, melewati ngarai
dan melangkah diantara bebatuan. Extra hati-hati tentunya. Melangkah salah siap-siap
terjungkal dan terjatuh.
Hidup nan rukun dan saling berdampingan menjadi ciri kas
kehidupan sosial warga di kampung tersebut. Itulah yang membuatku selalu rindu
dan ingin pulang. Rindu akan hanyatnya suasana dan persaudaraan yang terjalin.
Subuh itu, 16
September 1973. Sebagian warga kampung masih terlelap dalam tidurnya. Sebagian
lain sudah mempersiapkan diri untuk memulai pekerjaan hari itu. Semua warga di
kampung itu adalah petani, yang sehari-harinya bertani dan berladang. Karena
itu, malam hari merupakan waktu yang tepat bagi mereka untuk beristirahan.
Pagi itu, tangisan bayi
dari salah satu rumah disudut kampung itu memecah kesunyian. Sejumlah warga
berdatangan. Seorang lelaki paruh bayah sibuk membantu dukun kampung dalam
proses kelahiran itu.
Ia bergegas keluar
rumah. “Tuuk.... Tukkkk...Tukkkkk, ” bunyi pukulan dari balik pintu. “Ata peang
ko ata one?” ia berteriak. “Ata one” dengan serentak orang-orang dalam rumah
menjawabnya. Hal seperti ini merupakan kebiasaan di Suku Manggarai untuk mengetahui
jenis kelamin sang bayi usai melahirkan. Karena tidak semua orang diperkanan
untuk mengetahu proses persalinan. Hanya orang tertentu saja.
Raut wajahnya
berseri. Ia tersenyum lebar. Pagi itu ia baru saja dikaruniai bayi laki-laki. Lelaki
itu adalah ayahanda tercinta, Paulus Timba. Sosok sederhana, rendah hati dan
pekerja keras. Bagiku dialah sang maha “guru” kehidupan. Kisah hidupnya menjadi guru yang
terbaik bagi kami anak-anaknya. Santun dalam bicara. Menghormati siapapun.
Sementara ibunda
tercinta, Monika Lihung masih berbaring
lemas usai proses persalinan itu. Dibalik parasnya yang cantik. Dengan hidung
yang mancung, ia tak mampu menyembunyikan kebahagiannya. Wajahnya berseri. Ia segera
mencium bayi dan memeluk sebentar. Lalu kembali diserahkan kepada dukun
kampung.
Proses kelahiran
pagi itu berjalan lancar walaupun dengan cara-cara tradisional dan hanya
dibantu sang dukun kampung. Tak ada bidan. Tak ada dokter. Tak ada obat. Semua
berjalan secara alamiah. Itulah saat-saat awal saya saya hadir dibumi tercinta
ini.
“Dulu kamu lahir
lancar. Walaupun saat itu tak semaju seperti ini,” uja ibunda tercinta, Monika
Lihung ketika saya beranjak remaja.
......................
bersambung.....................
No comments:
Post a Comment