Sunday, March 27, 2016

KEMATIAN NYATA PADA HAKEKAT KEMANUSIAAN KITA


KEMATIAN NYATA PADA HAKEKAT KEM
ANUSIAAN KITA
 (Refleksi dan Pesan Paskah 2016)
    Oleh: Petrus Rabu


Umat Nasrani baru saja memperingati Hari Raya Paskah 2016. Dari Aspek Teologis, Perayaan Paskah merupakan perayaan iman untuk mengenang kembali peristiwa sengsara, kematian dan kebangitan Yesus Kristus, sang guru Agung untuk menembus dosa-dosa manusia. Beragam pesan dari kotbah dan ceramah teologis pemuka agama seputar perayaan paskah.

Namun setelah mengikuti perayaan paskah mulai dari Kamis Putih hingga Minggu kebangkitan saya menangkap satu pokok besar seputaran perayaan Paskah 2016 yang menarik pikirannya saya, yakni soal kematian.

Seperti kita pahami bersama, secara umum kematian  adalah akhir dari kehidupan, ketiadaan nyawadalam organisme biologis. Semua makhluk hidup pada akhirnya akan mati secara permanen, baik karena penyebab alami seperti penyakit atau karena penyebab tidak alami seperti kecelakaan. Setelah kematian, tubuh makhluk hidup mengalami pembusukan.

Sedangkan kebangkitan adalah sebuah konsep tentang kehidupan kedua setelah kematian dari seluruh makhluk, yang ada di dalam ajaran agama Yahudi, Kristen dan Islam. Bisa pula merujuk kepada tiap-tiap individu atau kebangkitan secara umum seluruh umat manusia. Walaupun beberapa agama-agama telah mengajarkan mengenai kebangkitan, masalah ini sering terkenal di dalam kitab suci agama samawi.

Pada ulasan ini, saya banyak menyentuh pada soal kematian. Karena bicara soal kebangkitan merupakan ranah agama yang bersifat teologis. Bagi saya kematian itu tidak saja pada aspek berakhirnya kehidupan atau ketiadaanya nyawa. Namun kematian itu kita alam dalam seluruh kehidupan manusia dari waktu ke waktu. Artinya sejak begitu kita lahir kita juga sudah mati. Untuk itu saya coba mengulas kematian itu dari  aspek berikut:


Kematian Individu

Kematian secara individu merupakan bentuk-bentuk tidak berfungsinya aspek-aspek keindividuan kita. Sebagaimana kita bersama bahwa manusia sebagai makhluk individual memiliki kesatuan pisik dan psikis. Keberadaan manusia sebagai individual bersifat unik (unique), artinya berbeda antara satu dari yang lainnya.

Demikian juga manusia memiliki prasaan, pikiran, kata hati dan unsur psikis lainnya, namun tidak ada dua manusia yang persis sama di muka bumi ini, karena setiap orang kelak akan diminta pertanggungjawaban, atas sikap dan perilakunya.

Kesadaran manusia akan dirinya sendiri merupakan perujudan individualitas manusia. Kesadaran terhadap diri sendiri mencakup pengertian yang sangat luas, diantaranya, kesadaran akan adanya diri diantara realita, self respect, self narcisme, egoisme, mertabat kepribadian, perbedaan dan persamaan dengan orang lain dan kesadaran terhadap potensi-potensi pribadi yang menjadi dasar dari self realisasi.

Manusia sebagai individu memiliki hak sebagai kodrat alami atau sebagai anugrah Tuhan kepadanya. Hak asasi sebagai pribadi terutama hak hidup, hak kemerdekaan dan hak memiliki. Konsekuensi dari adanya hak, maka manusiapun menyadari kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab sosial dan tanggung jawab moral.

Manusia memerlukan perawatan dan pendidikan dari manusia lain di lingkungannya. Ketergantungannya terhadap orang lain yang disebut sebagai pendidik adalah dalam proses pembinaannya untuk dapat mandiri. Langeveld menyatakan bahwa setiap anak memiliki dorongan untuk mandiri yang sangat kuat, meskipun disisi lain pada anak terdapat rasa tidak berdaya, sehingga memerlukan pihak lain (pendidik) yang dapat dijadikan tempat bergantun guntuk memberikan perlindungan dan bimbingan.

Fungsi utama pendidikan adalah membantu peserta didik untuk membentuk kepribadiannya, atau menemukan kedirinya sendiri.

Jika hal-hal individual ini kita tidak kembangkan dengan baik, sejatinya kita telah mati. Dan itu adalah kematian yang nyata tanpa kita sadari


Kematian Sosial

Seorang akan menemukan “akunya”, manakala berada di tengah aku yang lain. Artinya manusia tidak akan mengenali dirinya dan dapat mewujudkan potensinya sebelum dia berinteraksi dengan manusia yang lain. Manusia adalah makhluk sosial sekaligus adalah juga makhluk individual.

Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial terutama tampak dalam kenyataan bahwa tidak ada manusia yang mampu hidup sebagai manusia tanpa adanya bantuan dari orang lain. Realita ini menunjukkan bahwa manusia hidup dalam suasana interdependensi, dalam antar hubungan dan antaraksi. Semakin lama, ia akan memerlukan lingkup sosial yang lebih luas untuk meujudkan eksistensi dirinya. Dalam kehidupan manusia selanjutnya, manusia berada dalam satu kesatuan hidup, misalnya warga kampung, warga kampus, warga suatu kelompok kebudayaan dan lainnya.

Tidak dapat dibayangkan andaikan manusia sehari saja tanpa ada interaksi dengan manusia lain di lingkungannya. Mungkin dari kebutuhan pisik seorang dapat memenuhinya sendiri, tetapi kepuasan batin tidak diperolehnya. Karena bagaimanapun ia memerlukan adanya orang lain untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya. Secara psikologis setiap orang memiliki dorongan cinta dan dicintai, sehingga menimbulkan kebahagiaan dan kepuasan rohaniah.

Hidup dalam antar ahubungan antaraksi dan interdependensi mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik yang bersifat positif maupun negatif. Idealnya dalam kehidupan sosial itu tercinta suasana yang harmonis, rukun dan damai.

Kehidupan sosial adalah realita dimana individu tidak menonjolkan idetitasnya. Yang tmapak kepermukaan sebagai ujud kebersamaan adalah identitas sosial yang pluralistis. Individualitas manusia tidak bertentangan dengan wujud sosialitasnya. Dalam kehidupan manusi aindividualitas selanjutnya akan mberkembang menjadi sosialitas.

Hal ini dapat dilihat pada mulai bayi dan kanak=kanak bersifat egicentris, namun memasuki masa kanak-kanak sifat tersebut mulai berkurang dan berganti dengan adanya kebutuhan untuk diterima dan menerima orang lain sebagia bagian dalam kehidupannya. Esensi manusia sebagai makhluk sosial adalah adanya kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya dalam kehidupan bersama, serta tanggung jawabnya dalam kebersamaan tersebut.

Untuk mengembangkan potensi sosialitas pada diri peserta didik, idealnya pendidik menciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan terjalinnya interaksi dan interdependesi siswa. Komunikasi yang teraktif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa membuka peluang bagi siswa untuk lebih banyak belajar peristiwa sosial tersebut. Penggunaan metode diskusi misalnya, dapat mendorong terciptanya suasana kebersamaan antara siswa, bersifat terbuka dan menghargai perbedaan pendapat sesama anggota kelompoknya.


Kematian Etiket dan Kesusilaan

Dalam pergaulan sosial manusia diikat oleh nilai-nilai tertentu yang menjadi patokan/ ukuran bahwa suatu prilaku dianggap baik atau buruk. Istilah susila berasal dari dua kata, yaitu su berarti baik dan sila berarti dasar. Jadi kesusliaan merupakan ukuran baik dan buruk.

Persoalan kesusilaan berhubungan dengan nilai-nilai. Driyarkara memandang bahwa manusia susila adalah manusia yang memiliki nilai-nilai menghayati dan melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam perbuatannya. Nilai-nilai merupakan suatu yang dijunjung tinggi oleh manusia karena mengandung makna keluhuruan, kebaikan dan kemuliaan. Nilai dapat dibedakan atas nilai otonom, yaitu yang dimiliki/ dianut oleh orang perorangan, nilai teonom yaitu nilai keagamaan yang berasal dari pencinta alam semesta ini.

Orang yang memiliki kecerdakan akal budi sehingga mampu menganalisis dan membedakan yang baik dan buruk, salah atau benar disebut memiliki kata hati yang tajam. Kata hati yang tajam perlu diasah melalui pendidikan yang dilakukan sejak dini.

Jika aspek-aspek ini kita juga abaikan, kita juga merupakan manusia yang tak sadar bahwa kita mati.



Kematian Rohani/iman

Manusia adalah makhluk yang religius, yang mengakui bahwa da suatu zat yang mengasai alam beserta isinya, yang dipuja dan disembahnya yang disebut “llah” yaitu Tuhan. Manusia pada dasarnya tunduk dan patuh kepada Tuhan, kepada ajaran-ajaran yang disampaikan melalui kitab suci-Nya.

Manusia memerlukan agama untuk keselaman hidupnya kini dan untuk masa yang akan datang. Agama merupakan sandara vertikal dalam kehidupan manusia. Agar manusia menjadi makhluk yang tunduk dan patuh pada Tuhannya, maka perlu diberikan pendidikan agama sejak dini. Penanggung jawab utama dna pertama dalam pendidikan agama ini adalah orang tua. Pada mulanya anak akan meniru-niru perilaku orang tuanya dalam menjalankan agama, kemudian secara perlahan orang tua perlu memberikan pemahaman tentang peranan agama dalam kehidupan manusia.

Pendidikan agama tidak hanya tanggung jawab guru agama, tetapi merupakan tanggung jawab semua guru di sekolah dan tanggung jawab setiap orang untuk saling menasehati pada kebenaran terhadap sesamanya.


Ringkasan

Manusia secara individual terlahir ke muka bumi dengan segenap potensinya untuk berkembang. Potensi tersebut tidak dengan sendirinya akan terujud. Artinya diperlukan upaya dari manusia lain untuk merangsang agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Jika segala potensi ini tidak dikembangkan dengan baik ke arah yang positif maka sejati kita adalah makluk yang telah mati, namun kita tak sadar akan kematian itu.

Agar potensi yang dimiliki manusi aberkembang optimal maka manusia memerlukan orang lain dalam kehidupannya melalui proses sosialisasi. Tidak ada manusia yang maju dan berhasil tanpa bergaul dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Oleh sebab itu setiap individu harus mampu hidup dan menunjukkan kediriannya di tengah-tengah pergaulan sosialnya dan mampu menerima keberadaan orang lain dalam dirinya.

Individualitas manusia dapat diujudkan melalui interaksi sosialnya dengan manusia yang ada di lingkungannya. Dalam berinteraksi tersebut ada sejumlah nilai-nilai yang harus diperhatikan dan dipatuhi oleh manusia sehingga tidak terjadi benturan antara kepentingan hidup manusia sebagai makhluk individual maupun makhluk sosial.

Manusia terdiri dari aspek jasmani dan rohaniah manusia memerlukan sandaran vertikal dalam kehidupannya. Terbinanya hubungan vertikal dengan Tuhan yang Maha Kuasa dapat membuat jiwa manusia menjadi tenang. Hubungan tersebut dapat dibina melalui kepatuhan manusia pada ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Tuhannya. By. Petrus Rabu

No comments:

Post a Comment