Monday, January 4, 2016

Memantapkan Dimensi Kemanusiaan Dalam Lingkaran Waktu

“Masa lalu itu kenangan, masa kini adalah kenyataan dan masa depan itu impian,” Tahun 2015 baru saja berlalu dari hadapan kita. Dan kini, 2015 hanyalah kenangan. Walaupun 2015 itu sudah pergi namun goresannya tetap terukir dalam nubari kita masing-masing, bahwa kita pernah melewati suatu masa yang disebut tahun 2015. Bicara tentang tahun 2015, sebenarnya tidak hanya sekedar bicara soal kurung waktu 1 tahun. Atau 12 bulan. Atau 365 hari atau 8.760 jam, 525.600 menit bahkan bukan soal 31.536.000 detik melainkan bagaimana setiap detik di tahun 2015 gunakan untuk pengembangan diri dan mendedikasikan bagi orang lain. Karena kitalah yang memberi makna dan arti atas setiap waktu dan kesempatan yang kita lalui dalam kehidupan ini. Karena itu walaupun 2015 itu telah pergi tapi mungkin baik bagi untuk belajar dari 2015. Tahun 2015 mungkin sudah menjadi kenangan namun kini kenangan itu sebagai kenangan indah untuk kita melihat diri. Tahun 2015 bagaikan cermin besar untuk kita melihat seluruh diri kita. Siapa diri kita di 2015 untuk belangkah di 2016 ini dengan baik. Setidaknya dengan berubahnya waktu kita pun terus berubah untuk membenahi diri. Tentunya dalam melewati tahun 2015 silam banyak kenangan yang kita rajut. Ada kenangan manis tetapi juga banyak kenangan pahit. Ada keberhasilan dan ada kegagalan. Ada tawa tetapi juga pasti ada air mata. Sebagai manusia, apapun status kita dan siapapun kita pasti mengalami hal-hal itu, bahwa hidup selalu memiliki dua sisi yang tak akan pernah kita hindari. Dan itulah resiko kita sebagai makluk yang hidup dan terbatas dalam lingkaran waktu. Dalam lingkaran waktu itulah kita merajut banyak hal untuk memperkokoh dan memperkuat dimensi-dimensi kemanusiaan kita sebagai makluk ciptaan Tuhan yang hidup bersama yang lain dalam dunia. Berikut adalah dimensi-dimensi kemanusia kita yang perlu kita kembangkan searah dengan terus berubahnya waktu. A. Dimensi Keindividualan Dr. A. Lysen mengartikan individu sebagai “orang-seorang”, sesuatu yang merupakan suatu keutuhan yang tidka dapat di bagi-bagi (in clevide). Menurut M. J Langeveld (seorang pakar pendidikan yang tersohor di Negeri Belanda) bahwa setiap anak manusia terlahir dikaruniai potensi untuk menjadi berbeda dari yang lain, atau menjadi (seperti) dirinya sendiri. Tidak ada diri individu yang identik di muka bumi, bahkan dua anak kembar yang berasal daru satu telur pun yang lazim dikatakan seperti pinang dibelah dua, serupa dan sulit dibedakan suatu dari yang lain, hanya serupa tetapi tidka sama, apalagi identik . Dikatakan bahwa setiap individu bersifat unik (tidak ada tara dan bandingnya). Secara fisik mungkin bentuk muka sama tetapi terdapat perbedaan mengenai matanya. Secara kerohanian mungkin kapasitas intelegensinya sama, tetapi kecendrungan dan perhatiannya terhadap sesuatu berbeda. Artinya bahwa dalam membangun dan menata diri kita dalam waktu kita perlu menjadi diri sendiri. Bukan sebagaimana yang orang lain inginkan atau menjadi pribadi sebagaimana yang orang katakan. Aku adalah aku, aku bukan kamu, kamu juga bukan aku. Saya tidak bisa menjadi sepeti kamu dan sebalik kamu tak bisa seperti aku. B. Dimensi Kesosialan Setiap bagi yang lahir dikaruniai potensi sosialitas (M.J Langeveld, 1955) pernyataan tersebut diartikan bahwa setiap anak dikarunia benih kemungkinan untuk bergaul. Dengan adanya dorongan untuk bergaul, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Immanuel Kant seorang filosef tersohor bangsa Jerman menyatakan bahwa Manusia hanya menjadi manuia jika berada di antara manusia. Artinya bahwa dalam kehidupan ini ditengah-tengah kita menata diri dalam waktu kita juga hidup bersama dengan orang lain. Pergembangan diri kita juga sangat ditentukan oleh lingkungan dimana kita dibesarkan. Karena itu perlu memiliki sikap untuk saling menghargai, saling menerima dan saling memberi sehingga kita benar-benar pribadi sosial. C. Dimensi Kesusilaan Susila berasal dari kata Su dan Sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi. Akan tetapi, di dalam kehidupan bermasyarakat orang tidak cukup hanya berbuat pantas jika didalam yang pantas atau sopan itu misalnya terkandung kejahatan terselubung, karena itu maka pengertian Susila berkembang sehingga memiliki perluasan arti menjadi “kebaikan yang lebih” Dalam bahasa ilmiah sering digunakan dua macam istilah yang mempunyai konotasi berbeda yaitu: etiket (persoalan kepantasan dan kesopanan) dan etika (persoalan kebaikan). Manusia susila mengamalkan nilai-nilai ini dalam kehidupannya, etiket dan etika. Jika ini kita amalkan bukan tak mungkin waktu yang kita gunakan member makna bagi diri kita tetapi juga orang lain. D. Dimensi Keberagamaan Pada hakikatnya manusia adalah mahluk religius, sejak dahulu kala sebelum manusia mengenal agama mereka telah percaya bahwa di luar alam yang dapat dijangkau dengan perantaraan indranya, diyakini dengan adanya kekuatan supranatural yang menguasai hidup alam semesta ini. Setiap orang percaya bahwa kita hanya hidup dalam waktu karena kita diciptkan dan diberkati oleh sesuatu yang diluar jangkauan akal dan pikiran. Dalam banyak ajaran sesuatu yang diluar itu adalah Tuhan atau Allah. Karena itu, dalam kehidupan ini kita perlu bersyukur karena kita bisa dan hidup. ********Selamat Tahun Baru 2016********

No comments:

Post a Comment