Krisis Identitas Diri Ditengah Kemajuan Teknologi (Sebuah Opini)
Ketika Pusat Listrik Tenaga Diesel Waisai mengalami pemadam bergilir akhir-akhir ini tak sedikit orang yang mengomel, caci maki, mengumpat bahkan sempat melakukan demo. Ketika Bahan Bakar Minyak seperti bensin atau solar tidak ada semua orang rame-rame tidak melakukan kegiatan dengan alasan bensin tidak ada..
Nelayan pun tidak melaut dengan alasan yang sama juga. Ketika sinyal telepon bermasalah kita dengan muda mengatakan "0ya maaf kemarin tak sempat kasih tahu karena sinyal tidak ada".
Ini hanyalah satu dua kasus dari ribuan kasus yang sering kita hadapi dalam kehidupan kita sehari-hari. Saya yakin anda pasti sering mengalami hal serupa. Tak jarang anda pasti berontak. Pemberontak itu muncul karena fasilitas atau sarana yang kita gunakan bermasalah.
Pemberontakan itu sebagai protes karenanya keamanan kita terganggu.Dalam banyak kasus terkadang kita membiarkan keadaan itu. Protes itu wujud dari ketergantungan akan kemampuan teknologi. Hal yang tak dapat dipungkiri saat ini bahwa kemajuan teknologi pada satu sisi membawa dampak positif bagi kehidupan manusia namun disini lain kemajuan teknologi membuat manusia menjadi kerdil.
Manusia kehilangan indentitas dirinya sebagai homo creator. Manusia seakan menjadi makhuk yang tak berdaya. Tanpa kreativitas dan inovasi. Ditengah persoalan seperti inilah kita harus menempatkan kembali posisi manusia sebagai makluk yang diciptkan secara istimewa karena memiliki akal budi (animal rationale).
Sejatinya teknologi itu juga merupakan hasil karya manusia. Tapi itu hanya karya segelintir orang yang mampu mengoptimalkan kemampuan akal budinya demi kesejahteraan orang lain. Namun ketika hasil karya itu bermasalah maka bukan berarti kita berdiam diri. Manusia sebagai makluk yang berakal budi harus mampu memberikan solusi. Ketika belum ada teknologi manusia tidak mempersoalkan ketiadaan listrik karena masih ada alat-alat penerangan yang tradisional. Masih ada sumber energi lain yang bisa dimanfaatkan tergantung kita mampu memanfaat kekayaan sumber daya yang ada disekitar kita.
Tentunya juga dalam kasus-kasus lain. Ketika handphone belum ada manusia tak mempermalahkan untuk berjalan berkilo-kilo hanya untuk menyampaikan sebuah pesan. Ketika belum ada sistem komputer orang tak mempermasalahkan mengetik beribu-ribu halaman buku. Tapi sekarang apa. Kalau komputer atau laptop gangguan maka semua pekerjaan akan ditunda...
Tentunya masih banyak kasus lain yang bisa diambil contoh. Kita bisa boleh saja bangga dengan kemajuan teknologi tapi jangan sampai kita kehilangan kreativitas sebagai hakekat dari manusia. Hakekat itulah yang membedakan manusia dari makluk lainnya. Semoga.
No comments:
Post a Comment